Pembelian spare parts yang tampak “aman” ternyata dimanfaatkan sebagai celah—dengan pengadaan slow moving parts secara berlebihan untuk mengejar cashback dari vendor. Nilainya mencapai miliaran rupiah. Bagaimana pola ini terungkap, dan apa langkah tegas untuk menghentikan praktik yang merugikan perusahaan?
Di sektor penerbangan, pengadaan spare parts merupakan fungsi krusial yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan keberlangsungan operasional. Namun dalam kasus ini, justru area tersebut dimanfaatkan sebagai celah. Investigasi menemukan adanya pola pembelian spare parts kategori slow moving dalam jumlah berlebihan, jauh melampaui kebutuhan operasional normal.
Penelusuran lebih lanjut mengungkap modus di baliknya: adanya insentif cashback dari vendor yang nilainya mencapai miliaran rupiah, tergantung pada volume pembelian. Skema ini mendorong pengadaan yang tidak berbasis kebutuhan riil, melainkan kepentingan tertentu—yang pada akhirnya membebani perusahaan dengan inventory tidak produktif dan mengunci modal dalam jumlah besar.
Pendekatan investigatif difokuskan pada analisis histori pembelian, perbandingan kebutuhan aktual vs stok, serta relasi dengan vendor. Dari sana terlihat pola yang konsisten dan sistematis, mengindikasikan adanya praktik yang menyimpang dari tata kelola yang sehat.
Sebagai langkah pencegahan, direkomendasikan penguatan kontrol procurement melalui pembatasan pembelian berbasis demand planning, transparansi vendor management, serta integrasi sistem monitoring inventory dan procurement secara real-time.
Hasilnya, perusahaan tidak hanya menghentikan potensi kerugian berkelanjutan, tetapi juga berhasil mengoptimalkan cash flow, meningkatkan efisiensi inventory, dan memperkuat integritas dalam proses pengadaan—terutama pada area yang selama ini dianggap “aman” namun ternyata rawan disalahgunakan.